Share

Minggu, 16 Juni 2013

Si Gadis Kecil

Puluhan burung-burung kecil terbang di bawah langit biru yang indah dengan kicauan merdu mereka. Seorang gadis kecil seperti malaikat tesenyum dengan pakaian putih yang amat kusam, rambut panjang yang lurus dan kulit yang berwarna kuning langsat. Ia telah diabaikan kedua orang tuanya satu tahun yang lalu ketika ia masih berumur sembilan tahun. Gadis itu kini sendiri hanya puluhan burung yang telah menemaninya.
Di belakang gedung Taman kanak-kanak itulah gadis kecil tidur, makan dan bermain bersama burung-burung kecil. Tak mudah baginya mencari makan, ia terkadang meminta-minta dan membantu mencuci piring di pedagang-pedangang yang berada di pinggir jalan. Terkadang juga sehari ia hanya memakan satu bungkus nasi dari upah kerjanya mencuci piring. Namun, ia tetap bisa tersenyum dan bersemangat dengan hidupnya. Ia juga selalu membagi makanannya kepada burung-burung itu, tak heran kalau mereka selalu mendekati gadis kecil ini.
Terdengar bel dari Taman kanak-kanak yang menandakan waktunya pulang. Gadis itu muncul dan mengintip anak-anak yang berlari dan memeluk ibu mereka masing-masing. Burung-burung pun juga menyapa mereka dan sering sekali satu anak laki-laki memberi sekantung kecil makanan untuk puluhan burung-burung itu. gadis kecil itu tersenyum seakan ia bisa mendengar apa yang diucapkan oleh burung-burung mungil.
Sore harinya ia duduk di gerbang Taman kanak-kanak dan melihat langit membang. Kali ini ia hanya melihat sedikit burung kecil. “mungkin mereka masih bermain di tempat lain” gumam gadis kecil itu. tak lama kemudian ia merasa lapar. Ketika sore hari banyak pedagang yang tutup dan melanjutkan berdagang esok hari. Gadis kecil ini berjalan sembari mencari makan. Sesekali ia mengintip tong sampah barangkali ia menemukan makanan kecil. Tidak jauh ia menelusuri jalan, satu burung kecil ia temui, burung itu berbeda dengan teman-temannya indah dan lucu dengan warna putih di bulu sekitar kepalanya. Burung kecil itu membawa sebungkus roti kecil dan ringan, gadis kecil itu hanya melihatnya tak berniat untuk merebut walau kini perut kecilnya telah berteriak. Burung kecil itu berusaha membuka bungkus dari roti itu dan kemudian gadis kecil itu membantunya. Burung itu tak langsung memakannya ia membagi roti itu menjadi dua dan memberikan salah satu potongan roti kepada gadis kecil itu. puluhan burung telah berdatangan dan mengerubungi gadis kecil itu. gadis itu tersenyum kembali, membagi rotinya untuk burung-burung kecil.
Gelap pun mulai datang, dunia sunyi telah kembali dan membawa dinginnya angin malam. Tak tahu sekarang pukul berapa, gadis kecil ini bermain batu-batu kecil yang ia susun menjadi sebuah bentuk rumah yang mungil nan indah. Semakin larutnya malam membuatnya terlelap. Sebuah mimpi indah difikirannya, ia tidur dan tersenyum sesaat sembari meneteskan air mata.
Pagi yang cerah telah tiba. Gadis kecil itu terbangun oleh kicauan burung-burung itu sebagai temannya. Ia memulai hari bahagia walau pun dengan penuh usaha.
Namun, suatu hari gadis kecil itu menemukan satu burung yang mati di pinggir jalan, gadis itu menangis karena kehilangan satu temannya. Gadis ini kemudian membawa burung itu ke belakang gedung tempat ia tinggal. Gadis itu menguburnya disana. Ia mulai cemas, akhir-akhir ini jumlah puluhan burung mulai surut.
Seperti biasa saat bel pulang berbunyi. Gadis itu melihat anak laki-laki yang biasa memberi teman burungnya makan itu duduk diam dengan sebungkus makanan ditangannya. Gadis kecil itu menghampirinya.
“kakak, burungnya mati” ujar anak laki-laki itu kepada si gadis kecil.
Gadis kecil itu diam tak menjawab pertanyaan anak laki-laki itu. ia tengah menangis sembari melihat satu temanya mati lagi.
“ini temanku” jawab gadis kecil itu.
“oh iya, kalau bertemu burung kecil atau binatang yang lain, jangan sakiti mereka ya, karena mereka juga temanku, kalau kamu ingin menjadi teman mereka, sayangi juga mereka” lanjut gadis kecil menjelaskan.
“baik kak” jawab anak laki-laki itu.
Kemudian gadis kecil itu berlari dan bersembunyi di belakang gedung. Ia menangis merintih kehilangan satu temannya lagi. Ia tak tahu apa sebabnya kenapa mereka tiba-tiba mati satu persatu.
Esok harinya gadis kecil itu berjalan-jalan sembari mencari penyebab meninggalnya burung-burung kecilnya. Sampai sore hari ia mencarinya. Hingga sampai malam hari ia tidak bisa menemukannya.
Lima hari gadis itu mencari penyebabnya, tak pernah makan dan minum ia tetap mencarinya dan melindungi burung-burung kecilnya. Sudah duabelas burung yang mati. Kini gadis kecil ini merasakan ada yang aneh pada tubuhnya. Ia sangat lelah, tubuhnya memanas. Ia terkena demam tinggi, mungkin faktor lingkungan dan tidak makan selama hari pencarian. Semakin melajunya hari semakin parahnya juga keadaan gadis kecil ini. Tak ada seorang pun yang melihat keadaannya maupun menolongnya. Ia hanya terbaring lesu di tempat gelap nan sunyi dan juga hanya burung-burung kecil yang mengelilinginya dan menjaganya.
Hingga suatu hari, tepatnya di pagi hari, gadis kecil ini tidak bisa bergerak lagi dan puluhan burung–burung kecil itu diam. Kini sunyi di belakang gedung menyelimuti.
“kalian adalah teman hidupku, terima kasih sudah menjadi temanku”
Kalimat terakhir yang gadis kecil itu ucapkan untuk teman-temannya si puluhan burung-burung kecil yang mengelilinginya. “cit cit cit” puluhan burung-burung itu menjawab dan melihat gadis kecil itu tersenyum untuk mereka di saat terakhir hidupnya. Kini gadis kecil itu menutup mata dan terlelap untuk selamanya, meninggalkan puluhan burung-burung kecil yang menyayanginya. Mungkin, ada kesedihan di hati burung-burung kecil itu.
Bel pulang berbunyi. Baru kali ini kicauan burung yang amat keras memenuhi belakang gedung hingga suara mereka pun terdengar oleh orang-orang yang berada dikawasan gedung taman kanak-kanak itu. satu burung kecil menemui anak laki-laki yang pernah berbicara dengan gadis kecil itu. ia hinggap di tangan anak itu. “cit cit cit” burung itu berusaha berbicara dengan anak itu. tak lama kemudian anak kecil itu menyadari bahwa akhir-akhir ini ia tidak melihat gadis kecil yang biasa ia panggil kakak. Kemudian anak itu berlari menuju belakang gedung dan ia menemukan gadis kecil itu terbaring pucat dengan dikelilingi oleh puluhan burung-burung mungil.
“kakak? Kakak kenapa dingin sekali? Aku ambilkan selimut ya? Aku akan panggil mama” ucapnya dan berlari menghampiri mamanya.
“mama mama, ayo ambil selimut di rumah, kasihan kakak yang ada disana kedinginan” jelas anak laki-laki itu kepada mamanya.
Sebelum mengambil selimut. Mama anak tersebut mencoba melihat gadis kecil itu dan betapa kagetnya setelah mama anak tersebut melihat gadis kecil itu.
“Raka, kakak ini sudah meninggal, ia tidak kedinginan, ia meninggal seperti burung yang raka temukan waktu itu” jelas mama Raka tersebut.
“jadi, kakak ini gak bisa bangun lagi?” tanya Raka.
“iya” jawab mama Raka dengan singkat.
Dan kemudian mama Raka menggendong gadis kecil itu dan segera melaksanakan pemakaman untuk gadis kecil ini.
Kini gadis kecil mungil ini telah tersenyum bahagia. Di belakang gedung puluhan burung-burung kecil telah terbayang senyuman si gadis kecil itu. mereka sangat menyayangi gadis kecil itu. bahkan mereka setiap hari membawa sekuntum bunga kecil yang ia letakkan di makam gadis kecil ini.


Arina Ulfa Latifah
FB: Arina Ulfa Latifah
Twitter: @arinaUL

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar