Share

Jumat, 19 Februari 2016

Best Friend Forever?

dua orang remaja perempuan terlihat duduk di sebuah halte. hujan yang tak kunjung reda membuat keduanya merasa semakin panik. jam menunjukkan pukul 16.15. Ririn dan lisa, yap mereka berdua bersahabat semenjak SD dan sekarang mereka berdua duduk di kelas 3 SMA. mereka mengenakan gelang kembar dengan inisial nama mereka di tangan sebelah kiri.
tak satupun angkutan umum lewat di depan halte tersebut. sesekali lia melihat ke arah jam tangan yang digunakan ririn.

"aduuh gimana nih udah sore gini gabisa pulang kita" kata lisa dengan cemas
"sabar dong li, ini juga udah agak reda kok. mau jalan sekarang?"
"reda gimana ini deras banget tauu. mana gue gabawa jaket lagi. pasti mama udah nyariin dikiranya gue keluyuran nih" lisa semakin cemas. sesekali ia bolak balik di depan ririn.
"ya nggak lah, pasti dia ngerti kan ini lagi hujan" ririn mencoba menenangkan lisa

tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan halte dan kaca mobil pun terbuka.

"eh kalian sini pulang bareng gue" kata trian. trian teman ekskul ririn dan lisa di sekolah. keduanya tercengang kemudian saling bertatapan lalu lisa mengangguk.
"yuk!" lisa berdiri lalu menarik tangan ririn. lisa segera duduk di kursi depan dan ririn di belakang.

mereka bertiga berbincang. lisa merasa sangat senang, terlihat dari senyumannya yang lebar dan sesekali menatap trian dengan mata yang berbinar-binar. ririn hanya tersenyum kecil mendengarkan lelucon-lelucon yang menurutnya itu hal yang tidak begitu lucu. lisa memang berbeda dengan ririn. lisa memang selalu membuat orang tertawa dengan lelucon-leluconnya itulah yang membuat lisa lebih eksis dibanding ririn.

keesokan harinya keduanya bertemu di sekolah.

"ri liat deh ada murid baru loh, ganteng! sekelas dengan trian tapi" lisa menopang dagunya terlihat sedikit kecewa karena murid baru itu tidak sekelas dengannya.
"iyasih ganteng, hehe" kata ririn sambil mengemut lolipopnya.
"kenalan ah" lisa kemudian tertawa
"ih lu mah ganjen ya" ririn mencubit pipi lisa

hari demi hari. minggu demi minggu lisa terlihat lebih akrab lagi dengan murid baru itu.

"li kita ke skatepark yuk udah lama nih ga kesana kangen lecet-lecet nih gue" kata ririn sambil mencolek-colek bahu lisa yang sedaritadi asik mengotak-atik smartphonenya. dering Line tak berhenti berbunyi.
"yah gue dikacangin nih. lagi chat sama siapa sih lu?" ririn iseng menyentuh layar smarthone lisa
"apaansih ririn gue lagi chat sama ian, hehe. mau ke skatepark? kapan? hari ini gue gabisa ri udah ada janji soalnya" kata lisa lalu menatap ririn
"gapapadeh lain kali aja. ciyee makin deket aja lu sama si ian"

oh iya, ian adalah murid baru disekolah yang sekelas sama trian.


***

senyum lebar terlihat diwajah ririn. dia berlari menemui lisa. ia memanggil lisa namun lisa sepertinya kurang mendengar teriakan ririn. 

"ih li lu budeg juga ya" kata ririn dengan nafas yang kurang beraturan
"eh kenapa? sampe lari-larian gini"
"besok valentine!!! inget dong perjanjian kita"
"wuih hampir lupa gue. jadi, lu udah punya seseorang? penasaran nih gue. kok ga cerita sih sama gue? udah punya sahabat baru emangnya?" kata lisa dengan cemberut
"ih ya nggak lah lisa, lu kan sahabat gue satu-satunya. ga cerita lah kan perjanjiannya gaboleh curhat-curhatan dulu, terus di hari valentine nanti kita ngasih coklat ke orang yg kita suka kan?
"eh iya bener bener bener. lu suka sama siapa ri? satpam sekolah? haha" lisa mengejek ririn
"huuu enak aja, ada deh rahasia pokoknya. pulang sekolah nanti kita beli coklat barengan yuk. lu gada janji kan?"
"okedeh kita beli coklat bareng"

 Hari ini hari valentine, hari dimana semua orang memberi kasih sayang yang lebih spesial. Ririn berjalan di koridor sekolah. Coklat yang terikat pita berwarna merah di genggamnya. Ia berjalan menuju kelas trian. Seperti yang kalian ketahui, ririn hendak memberi coklat kepada trian. Ia melangkah dengan terburu buru. Wajahnya tampak gugup. Tak lama kemudian sampailah ia di depan kelas trian. Matanya terpaku, ia tampak kaget lalu menghela nafas. Trian duduk di kursi bagian depan. Disana ada lisa sedang berdiri tepat dihadapan trian. Trian menggenggam coklat yang terikat pita merah persis dengan coklat yang dipegang ririn.

"Ririn? Sini!" lisa mengayunkan tangannya memanggil ririn untuk lebih mendekat.
"Ih coklatnya, kamu mau ngasih ke siapa? Aku ngasih ke trian hehehe" kata lisa sambil tersipu malu.
"Oh ini buat tama hehe" kata ririn sambil menaruh coklat di atas meja di depan cowok yang bermana tama. Kebetulan tama duduk tepat di belakang trian. Ririn semakin gugup.
"Kalo gitu gue ke kelas dulu ya, mau ngambil handphone" ririn berjalan menjauh menuju kelasnya kembali. Dadanya terasa sesak. Sesekali ia menggigiti kuku ibu jarinya. Ia tak menyangka bahwa lisa ternyata jatuh cinta juga kepada trian. Mataya terlihat berkaca-kaca. Ririn menghela nafas seakan merelakan lisa bahagia bersama trian.

-Tamat-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar